05/04/16

Tanda-tanda Anda Sudah Tenggelam Dalam Dunia Fana


Kesalahan dan kealpaan adalah fitrah manusia, namun bukan berarti hal tersebut dapat menjadi pembenaran terhadap kesalahan yang kita lakukan berulang kali. Sebagai makhluk lemah yang rentan terhadap godaan, kita diberikan kekuatan tersembunyi untuk istiqamah terhadap tugas utama kita sebagai khalifah di muka bumi. 

Pada kenyataannya, hari ini banyak yang memposisikan diri sebagai budak kehidupan dunia fana walaupun kita seorang pemimpin. Apa saja tanda-tanda bahwa kita sudah menjadi budak kehidupan dunia?

Tanda-tanda Kita Sudah Tenggelam Dalam Dunia Fana

  • Kita tidak bersiap-siap saat waktu shalat akan tiba.
  • Kita melalui hari ini tanpa sedikitpun membuka lembaran Al Qur'an lantaran kita terlalu sibuk.
  • Kita sangat perhatian dengan omongan orang lain tentang diri kita.
  • Kita selalu berpikir setiap waktu bagaimana caranya agar harta kita semakin bertambah.
  • Kita marah ketika ada orang yang memberikan nasihat bahwa perbuatan yang kita lakukan adalah haram.
  • Kita terus menerus menunda untuk berbuat baik. "Aku akan mengerjakannya besok, nanti, dan seterusnya."
  • Kita selalu mengikuti perkembangan gadget terbaru dan selalu berusaha memilikinya.
  • Kita sangat tertarik dengan kehidupan para selebriti.
  • Kita sangat kagum dengan gaya hidup orang-orang kaya.
  • Kita ingin selalu menjadi pusat perhatian orang.
  • Kita selalu bersaing dengan orang lain untuk meraih cita-cita duniawi.
  • Kita selalu merasa haus akan kekuasaan dan kedigdayaan dalam hidup, dan perasaan itu tidak dapat dibendung.
  • Kita merasa tertekan manakala kita gagal meraih sesuatu.
  • Kita tidak merasa bersalah saat melakukan dosa-dosa kecil
  • Kita tidak mampu untuk segera berhenti berbuat yang haram, dan selalu menunda bertaubat kepada Allah.
  • Kita tidak kuasa berbuat sesuatu yang diridhai Allah hanya karena perbuatan itu bisa mengecewakan orang lain
  • Kita sangat perhatian terhadap harta benda yang sangat ingin kita miliki.
  • Kita merencanakan kehidupan hingga jauh ke depan.
  • Kita menjadikan aktivitas belajar agama sebagai aktivitas pengisi waktu luang saja, setelah sibuk berkarir.
  • Kita memiliki teman-teman yang kebanyakannya tidak bisa mengingatkan kita kepada Allah.
  • Kita menilai orang lain berdasarkan status sosialnya di dunia.
  • Kita melalui hari ini tanpa sedikitpun terbersit memikirkan kematian.
  • Kita meluangkan banyak waktu sia-sia melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat.
  • Kita merasa sangat malas dan berat untuk mengerjakan suatu ibadah.
  • Kita tidak kuasa mengubah gaya hidup kita yang suka berfoya-foya, walaupun kita tahu bahwa Allah tidak menyukai gaya hidup seperti itu.
  • Kita senang berkunjung ke negeri-negeri kafir.
  • Kita diberi nasihat tentang bahaya memakan harta riba, akan tetapi kita beralasan bahwa beginilah satu-satunya cara agar tetap bertahan di tengah kesulitan ekonomi.
  • Kita ingin menikmati hidup ini sepuasnya.
  • Kita sangat perhatian dengan penampilan fisik kita.
  • Kita meyakini bahwa hari kiamat masih lama datangnya.
  • Kita melihat orang lain meraih sesuatu dan kita selalu berpikir agar dapat meraihnya juga.
  • Kita ikut menguburkan orang lain yang meninggal, tapi kita sama sekali tidak memetik pelajaran dari kematiannya.
  • Kita ingin semua yang kita harapkan di dunia ini terkabul.
  • Kita mengerjakan shalat dengan tergesa-gesa agar bisa segera melanjutkan pekerjaan.
  • Kita tidak pernah berpikir bahwa hari ini bisa jadi adalah hari terakhir kita hidup di dunia.
  • Kita merasa mendapatkan ketenangan hidup dari berbagai kemewahan yang kita miliki, bukan merasa tenang dengan mengingat Allah.
  • Kita berdoa agar bisa masuk surga namun tidak sepenuh hati seperti halnya saat kita meminta kenikmatan dunia.

Budak Dunia Fana


Ada beberapa faktor di atas mungkin dapat kita lakukan apabila untuk kebaikan akhirat, namun hal tersebut kembali kepada niat kita sebagai Hamba-NYA. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang terselamatkan. Amin

Sumber: Ust. Raehanul Bahraen

Perbedaan Adalah Sumber Kekayaan Dalam Kehidupan Berjamaah


Kenyataan tentang perbedaan akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. 

Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. 

Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap perbedaan. Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu?

Perbedaan adalah rahmat


Tentang Perbedaan (Pertama),

Marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? 

Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam perbedaan karena itu merupakan kebiasaan yang buruk. Dan ketika ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. 

Alangkah menyedihkannya menyaksikan para tokoh yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."

Tentang Perbedaan (Kedua),

Marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. 

Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun "karena faktor setan" kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. 

Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, perbedaan pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.

Tentang Perbedaan (Ketiga),

Seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan bersama lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. 

Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan bersama itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. 

Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan bersama itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan bersama karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Tentang Perbedaan (Keempat),

Sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: 
  • Tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, 
  • Tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, 
  • Tentang makna ukhuwwah dan persatuan, 
  • Tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, 
  • Tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, 
  • Tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, 
  • Tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, 
  • Tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, 
  • Tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.
Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. 

Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak ?

Sumber : Anis Matta, Lc.

Saat Yang Tepat Untuk Menyampaikan Nasehat


Harun ibn ‘Abdillah, seorang ulama ahli hadits yang juga pedagang kain di kota Baghdad bercerita:
Suatu hari, Saat malam beranjak larut, pintu rumahku di ketuk. “Siapa..?”, tanyaku.
“Ahmad”, jawab orang diluar pelan.
“Ahmad yang mana..?” tanyaku makin penasaran.
“Ibn Hanbal”, jawabnya pelan.
Subhanallah, itu guruku..!, kataku dalam hati.

Maka kubuka pintu. Kupersilakan beliau masuk, dan kulihat beliau berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya.

Saat kupersilakan untuk duduk, beliau menjaga agar kursinya tidak berderit mengeluarkan suara.
“Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini..?”
“Maafkan aku ya Harun… Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadits selarut ini, maka aku pun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi.”

Aku terkejut. Sejak siang..? “Apakah itu wahai guru?”
“Mmmm begini…” suara Ahmad ibn Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik.
“Siang tadi aku lewat disamping majelismu, saat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadits-hadits, sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan. Lain kali, janganlah seperti itu wahai Harun. Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid-muridmu duduk..!”

Waktu yang tepat untuk memberi nasehat
ilustrasi gambar dari : gayahidup.republika.co.id


Aku tercekat, tak mampu berkata…
Maka beliau berbisik lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat dan menutup pintu hati-hati. Masya Allah… Inilah guruku Ahmad ibn Hanbal, begitu mulianya akhlak beliau dalam menyampaikan nasehat.

Beliau bisa saja meluruskanku langsung saat melintasi majelisku. Tapi itu tidak dilakukannya demi menjaga wibawaku dihadapan murid-muridku. Beliau juga rela menunggu hingga larut malam agar tidak ada orang lain yang mengetahui kesalahanku. 

Bahkan beliau berbicara dengan suara yang sangat pelan dan berjingkat saat berjalan, agar tidak ada anggota keluargaku yang terjaga. Lagi-lagi demi menjaga wibawaku sebagai imam dan teladan bagi keluargaku.

Nasehat Imam Asy Syafi’i:

“Nasehati aku saat sendiri, jangan di saat ramai dan banyak saksi. Sebab nasehat di tengah khalayak, terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak; Maka maafkan jika hatiku berontak…”

16/10/15

Psikologi Anak dan Peran Orang Tua

Tulisan berikut tidak akan mengulas psikologi anak dari sisi ilmiah atau temuan sains. Banyak artikel yang bisa didapatkan untuk menjelaskan psikologi anak dengan lengkap dan terperinci dari sudut pandang tersebut.

Tulisan ini hanyalah berbentuk sebuah pesan ringan dari seorang teman untuk kita semua tentang perilaku anak dan bagaimana seharusnya kita menyingkapinya. Apa saja pesan beliau? Ini dia, selamat membaca dengan hati.

Psikologi Anak dan Peran Orang Tua
pic by : verica mirkovic

Jangan didik anak mu

........
Jangan didik anak laki-lakimu bahwa kekuatan dan keperkasaan adalah segalanya. Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya.

Jangan didik anak laki-lakimu untuk mengejar kehormatan dan kekuasaan. Ajari dia untuk mengejar cinta kasih dan kebijaksanaan.

Jangan larang anak laki-lakimu jika ia menangis karena dia boleh cengeng. Ajari dia untuk mengenali dan menerima perasaannya. 

Air mata adalah anugerah Tuhan yang indah sehingga ia belajar untuk tidak frustasi oleh emosinya dan ketika dewasa ia telah belajar untuk hidup dengan seutuhnya.

Jangan didik anak perempuanmu bagaimana menjadi cantik. Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya sehingga inner beauty akan muncul dari dalam dirinya.

Jangan didik anak perempuanmu bagaimana menyenangkan hati para lelaki. Ajari dia untuk menyenangkan Tuhannya. Karena Tuhan akan menunjukkan cara kepadanya untuk berbakti kepada para lelaki dengan cara yang elegan.

Jangan larang anak perempuanmu ketika dia melompat, berlari dan memanjat atau ketika ia suka mengotak-atik benda. Itu anugerah dari Tuhannya.

Jangan paksa anak perempuanmu untuk duduk manis dan diam apabila jiwanya ingin bebas jadi dirinya sendiri. Rasa ingin tahunya adalah anugerah dari Tuhannya

Apabila anak laki-laki dan anak perempuanmu telah kau bonsai dan kau rusak dengan kata dan tingkah lakumu, maka mulailah mengisi rumahmu dengan cinta, hikmah dan kebijaksanaan. Bukan dengan harta, keindahan tubuh, gelar dan kekuasaan.

Bagikanlah kepada anak laki-laki dan anak perempuanmu keindahan menikmati mentari pagi, kehangatan rasa ketika menggenggam pasir, kemesraan kupu-kupu hinggap di atas bunga dan merdunya suara tetes-tetes hujan.

Jika kau ingin anak-anakmu rajin beribadah, gemakan keberadaan Tuhan dalam dirimu. Mereka takkan bisa kau paksa untuk berdoa dan beribadah ketika mereka tidak melihat dirimu melakukannya, ketika mereka tidak menangkap makna ibadah darimu. 

Jika kau ingin anak-anakmu mencintai pengetahuan, pancarkan rasa ingin terus belajar. Belajarlah dari mereka apabila mereka lebih tahu. Nasehatmu takkan bisa membuat anak-anakmu membaca apabila mereka tidak pernah menyaksikan engkau menikmati buku.

Jika ingin anak laki-laki dan anak perempuanmu penuh kasih, tunjukkan cinta kasihmu kepada mereka dan sesama. Kata-kata saja tidak akan mempan membuat mereka mengasihi jika tidak pernah merasakan hangatnya cinta darimu.

Untuk anak-anakmu, engkau adalah teladan utama. Tak perlu banyak kata, tak perlu jutaan nasehat. 
Jika kau ingin anakmu hidup seperti yang kau inginkan, HIDUPLAH DEMIKIAN!!
.......

Mudah bukan? tentu saja tidak. Semoga bermanfaat :)